Menghubungkan Titik-Titik

Posted on March 28, 2008 ยท Posted in Motivasi

Saya putus kuliah dari Reed College setelah 6 bulan pertama, tapi saya tetap ada di kampus selama 18 bulan berikutnya sebelum saya benar-benar berhenti. Jadi kenapa saya keluar?

Dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah seorang mahasiswi muda dan tidak menikah, ia memutuskan untuk menyerahkan saya untuk diadopsi. Ia sangat menginginkan agar saya diadopsi oleh lulusan universitas, jadi semuanya sudah diatur agar saya akan diadopsi pada saat lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Hanya saja, saat saya lahir, mereka ternyata menginginkan seorang anak perempuan. Jadi orangtua angkat saya, yang masuk dalam daftar tunggu, menerima telepon di tengah malam yang menanyakan:

"Kita ada satu bayi laki-laki, kalian mau?"

Mereka berkata, "Tentu saja."

Di kemudian hari ibu kandung saya menemukan bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya tidak pernah lulus SMA. Ibu kandung saya menolak menandatangani berkas akhir adopsi. Ia baru rela beberapa bulan kemudia ketika orangtua angkat saya berjanji bahwa saya akan kuliah suatu hari nanti.

Dan 17 tahun kemudian saya benar-benar masuk kuliah. Namun bodohnya saya memilih tempat kuliah yang nyaris sama mahalnya dengan Stanford, dan seluruh tabungan orang tua angkat saya habis untuk membiayai kuliah saya. Setelah enam bulan, saya tidak dapat melihat arti kuliah ini. Saya tidak punya tujuan hidup dan tidak mengerti bagaimana kuliah dapat menolong saya memiliki tujuan hidup. Sedangkan saya sudah menghabiskan semua uang orangtua saya yang telah mereka tabung seumur hidup. Jadi saya memutuskan untuk keluar dan percaya semuanya akan beres.

Cukup menakutkan juga saat itu, tapi jika saya tengok kembali itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat. Begitu saya putus kuliah saya dapat berhenti masuk kelas wajib yang tidak saya sukai, dan mulai masuk ke kelas yang tampaknya menarik.

Tidak selamanya romantis sih. Saya tidak punya kamar asrama, jadi saya tidur di lantai kamar teman saya, saya menukar botol coke di deposit 5 untuk membeli makanan, dan saya akan berjalan sejauh 7 mil melintasi kota setiap minggu malam untuk mendapatkan makan malam yang enak di kuil Hare Krishna. Saya sangat menyukainya. Dan ternyata dengan menuruti rasa ingin tahu dan intuisi, saya memperoleh hal yang berharga di kemudian hari.

Ini salah satu contohnya:

Reed College pada masa itu mungkin memiliki tulisan kaligrafi terbaik di negeri ini. Di semua poster kampus, semua label di setiap laci, ditulis tangan dengan kaligrafi yang indah. Karena saya sudah keluar dari kuliah dan tidak harus mengambil kelas tertentu, saya memutuskan untuk mengambil kelas kaligrafi untuk belajar caranya. Saya belajar tipe tulisan serif dan san serif, tentang memvariasikan jumlah jarak antara kombinasi huruf yang berbeda, tentang apa yang membuat para tipografis hebat menjadi hebat. Itu adalah sesuatu yang indah, bersejarah, berseni, sedemikian rupa sehingga ilmu pengetahuan tidak dapat menyamainya, dan menurut saya itu sungguh mengagumkan.

Tidak ada satupun yang sepertinya akan diterapkan dalam kehidupan saya.

Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami merancang komputer Macintosh pertama, semuanya saya ingat kembali. Dan kami merancangnya di Mac. Itu adalah komputer pertama dengan tipografi yang indah. Jika saya tidak ikut kelas itu di kuliah, maka Mac tidak akan punya beragam tulisan atau huruf yang berjarak dengan proporsional. Dan karena Windows hanya meniru Mac, sepertinya tidak ada PC yang akan memiliki tipografi yang indah.

Jika saja saya tidak pernah putus kuliah, saya tidak akan pernah belajar di kelas kaligrafi ini, dan komputer pribadi tidak akan memiliki tipografi yang bagus seperti sekarang ini. Tentu saja tidak mungkin menghubungkan titik-titik itu ke masa depan saat saya masih di kampus. Tapi terlihat sangat, sangat jelas jika ditinjau sepuluh tahun kemudian.

Sekali lagi, kita tidak dapat menghubungkan titik-titik di masa depan; kita hanya dapat menghubungkannya saat kita menengok ke belakang. Jadi kita harus percaya bahwa titik-titik itu suatu saat akan terhubung di masa mendatang. Kita harus percaya pada sesuatu — insting, takdir, kehidupan, karma, apalah. Pendekatan ini tidak pernah mengecewakan saya, bahkan telah membuat semua perubahan dalam kehidupan saya.

* Steve Jobs, CEO of Apple Computer and of Pixar Animation Studios